08/11/2014

Yang Berjubah Belum Tentu Salih


Tatkala Nabi Daud sedang memberikan pelajaran akhlak kepada murid-muridnya, masuklah seorang laki-laki memakai jubah putih dan menyebarkan bau wangi. Laki-laki berjenggot itu mengucapkan salam kepada Nabi Daud, tetapi Nabi Daud tidak peduli, apalagi menjawab salamnya. Ia kemudian meneruskan pelajarannya tanpa melirik kepada tamu yang baru saja tiba itu.
Laki-laki itu lantas melaksanakan sembahyang sesuai dengan syariat dengan berlaku pada waktu itu. Setelah melaksanakan rukuk dan sujud, laki-laki itu mengangkat tangannya dan berdoa.
Nabi Daud melanjutkan wejangan-wejangannya tanpa memberi kesempatan kepada tamu itu untuk berkenalan, atau para muridnya mkengambil perhatian kepadanya. Semua murid Nabi Daud merasa tidak enak di depan laki-laki asing tadi, dan menganggap Nabi Daud tidak memeberikan contoh yang baik.

Pria berjubah putih itu terdengar menangis tersedu-sedu ketika berdoa. Sesudah itu ia berdiri, lalau keluar dari sinagog tempat peribadatan mereka setelah mereka meminta diri dengan mengucapkan salam. Namun Nabi Daud tetap tidak menaruh hormat sama sekali. Semua murid Nabi Daud sangat ibamelihat nasib tamu yang malang itu.
Maka setelah Nabi Daud menyelesaikan pelajaranmengenai akhlak yang baik, salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan.
“Wahai, Nabiyullah.saya ingin bertanya.”
“Tanyalah,” jawab Nabi.
“Bukankah engkau mengajarkan kepada kami untuk menghormati tamu?”
“Betul.”
“Tetapi mengapa engkau tidak memperlihatkan akhlak terujimu kepada tamu?”
“Sebab dia tidak tahu budi pekerti. Apakah kalian tidak ingat tatkala memasuki majelis tatkala guru sedang mengajar? Mula-mula kaki kanan melangkah lebih dulu sebagai tanda menghormati sinagog kita. Kemudian tidak seharusnya dia mengucapkan salalm, melainkan langsung duduk dan ikut mendengarkan.”
“Barangkali dia belum tahu tata caranya?”
“Tapi jubah dan surbannya, menunjikkan seolah-olah dia orang laim bukan? Apakah pantas kalau dia orang alim tidak mengetahui soipan santun memasuki tempat peribadatan dan tempat mengajar?” sanggah Nabi Daud. “Orang seperti itulah yang akan menjatuhkan agama kita,karena tidak sesuai antara penampilan dengan sikapnya.”
“Tapi tadi dia sembahyang lama seklai,” sahut si murid.
“Itulah tanda kepalsuannya. Ia hanya ingin memamerkan kesalihannya, padahalia bukan orang baik. Ia sembahyang buat kita, bukan buat Tuhan.”
“Ia berdoa panjang sambil menangis.”
“Apakah doa yang panjang menjamin keikhlasan? Bukankah orang lebih menyukai orang yang khusyuk dan yakin? Kalau ia ingin menangis tidak selayaknya di depan kita. Menangislah yang sedih di depan Tuhan ketika sendirian, dalam sembahyang malam pada waktu oranglain tengah lelap dan tidak melihat tangisnya.
“Wajahnya mulus sekali seperti orang yang ikhlas. Pakainnya serba putih melambangkan warna hatinya. Apakah ia bukan orang yang takwa?”
“Takwa tidak dilihat dari rupanya, juga tidak dilihat dari pakaiannya. Tuhan hanya melihat hati manusia, dan dinilai dari perbuatannya, sesuai atau tidak dengan syariat atau adab agama. Manusia tidak dihargai dari bungkusnya, melainkan dari isinya, dari mutu kemanusiannya.”
Dengan penjelasan tersebut, mengertilah murid-murid Nabi Daudbagaimana seharusnya menghayati agama dengan menjalankan semua ketentuannya, tidak sekedar membangga-banggakan sekedar melalui ucapan dan pernyataan.

source: cerita-islamidotcom

No comments:

Post a Comment