jln. cikowari rt 001 rw 007 desa sirnabaya kec. rajadesa. belakang bengkel motor.. go blog, just night notes
10/10/2014
Perjuangan yang Tidak Ikhlas
Mula-mula suami istri itu hidup tentram. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. Si suami adalah seorang alim yang takwa dan tawakal.
Tetapi sudah beberapa lama istrinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tidak ada habis-habisnya itu. Ia membayanga=kan alangkah bahagianya juka hidup segala-galanya serba cukup.
Pada suatu ketika laki-laki yang alim itu berangkat menuju ke kota, mau mencari pekerjaan. Ditengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekati. Ternyata orang-orang sedang memuja-muja pohon yang dianggap keramat dan angker itu. Banyak juga kaum wanita serta pedangan meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangan mereka laris.
“Ini syirik,” pikir laki-laki alim tadi. “Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan meminta dan menyembah selain kepada Allah.”
Maka pulanglah ia buru-buru. Istrinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu suaminya mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Nlantas laki-laki tadi bergegas ke luar, istrinya bertanya, tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya, lalu dipaunya cepat-cepat menuju pohon itu.
Sebelum berada di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyaru sebagai manusia.
“Hai,mau kemana kamu?” tanya si Iblis.
Orang alim tersebut menjawab, “Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah untuk merobohkan pohon syirik itu.”
“Kamu kan tidak ada hubungan apa-apa dengan pohon itu. Yang oenting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah, pulang saja.”
“Tidak bisa, kemungkaran harus diberantas,”jawab si alim bersikap keras.
“Berhenti, jangan teruskan!” bentak Iblis marah.
“Akan saya teruskan!”
Karena masing-masing ngotot pada pendiriannya, akhirnya terjadilah pertengkaran antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah bisa dibinasakan. Sebab iblis begitu tinggi besar, sedangkan si alim kecil kerempeng. Namun ternyata iblis telah tiga kali dipukul rubuh hingga babak belur. Iblis menyerah kalah, meminta ampun. Kemudian dengan kesakitan ia meringis dan berkata, “Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tidak berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya bejanji setiap pagi setiap tuanselesai melaksanakansembahyang Subuh, dibawah tikar sembahyang saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja cepat, jangan teruskan niat tuan itu
Mendengar janji isblis dengan memberi uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim. Ia teringat istrinya yang ingin hidup berkecukupan.ia teringat betapa istrinya mengomel saban hari karena uang belanja yang kurang. Setiappagi empat dinar, dalam sebulan saja ia akan menjadi orang kaya.
Demikianlah, semenjak pagi itu istrinya tidak pernah cemberut lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai sembahyang, dubukanya tikar sembahyangnya. Betul, disana tergolek empat benda mengkilat, empat dinar uang emas. Dia meloncat kegirangan, dan istrinya memeluknya dengan mesra.
Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga,nmatahari mulai terbit dan ia membuka tikar sembahyangnya masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari yangkeempat ia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi kecuali tikar pandan yang rapuh. Istrinya mulai cemberut karena uang yang kemaarin sudah dihabiskan sama sekali.
Si alim dengan lesu menjawab, “Jangan khawatir besok pagi kita bakal mendapat delapan dinar sekaligus.”
Keesokan harinya, harap-harap cenas suami-istri itu bangun pagi-pagi.setelah sembahyang, dibukanya tikar sajadahnya, kosong.
“Kurang ajar. Penipu,” teriak si istri. “Ambil kampak,tebanglah pohon itu.”
“Ya, ,memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya, hingga ke ranting dan daun-daunnya,”sahut si alim itu.
Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil menenteng kampaknya yang tajam ia memacu tunggangannya menuju kea rah pohon angker itu. Di tengah jalan iblis yang berbadan tinggi besar iru sudha menghadang. Kakinya mengangkang seraya matanya melotot tajam.
“Mau kemana kamu?” hardiknya menggelegar.
“Mau menebang pohon,” jawab si alim dengan gagah berani.
“Behenti, jangan lanjutkan.”
“Tidak bisa, sebelum pohon itu tumbang.”
Makaterjadilah kembali pergumulan yang seru. Masing-masing mengeluarkan kedigjayaannya. Tapi kali ini bukan iblis yang kalah. Si alim ntadi terkulai, tubuh dan kepalanya penuh luka-luka. Dalam kesakitannya, si alim itu bertanya heran, “Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?”
Iblis itu dengan angkuh menjawab, “Tentu saja kau dulu bisa menang. Karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh bala tentarakubuat mengeroyokmu sekalipun, aku tak kan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar rumah hanya karena tidak ada uang dibawah tikar sajadahmu. Maka jika kau keluarkan seluruh kebisaanmu, tidak bakal kamu mampu menjatuhkan aku. Pulang saja, kalau tidak nanti kupatahkan batang lehermu biar mampus.”
Mendengar perkataan iblis tadi si alim hanya termangu-mangu . ia merasa bersalah, dan niatnya sudah tidak ikhlas karena Allah lagi. Dengan terhuyung-huyung ia pulang kerumahnya. Dibatalkannya niat semula hendak menebang pohon sumber kesyirikan itu.
Ia saar bahwa perjuangan yang sekarang adalah tanpa keikhlasan karena Allah, dan ia sadar pejuangan semacam itu tak akn menghasilkan apa-apaselain kesia-siaan yang berkelanjutan. Sebab tujuannya hanyalah harta benda, padahal mengatasnamakan Tuhan dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata?”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment