10/10/2014

Gadis Pemerah Susu

Malam semakin larut dan lengang. Gadis berpakaian compang-camping itu baru saja memerah susu kambingnya untuk dijual besok pagi. Diluar rumahnya yang rombeng angin malam bertiup kencang. Tidak seorangpun berani keluar ketika cuaca seperti itu. Sebab sewaktu-waktu angin gurun bisa mendatangkan beliung pasir.
Namun, dua orang lelaki sedangmelangkah sembunyi-sembunyi dari satu rumah kerumah lainnya. Dan langkah mereka terhenti ketika berada di dekat rumah gadis penjual susu tadi lantaran mereka mendengar suara perempuan tua sedang berkata kepada putrinya:
“Sebelum tidur, jangan lupa kau lakukan perintahku ya?”
“Perintah apa, Ibu?” tanya si gadis.
“Hari ini perahan susu kita tidak sebanyak biasanya. Jadi kucampur saja dengan air. Pembeli takkan bisa membedakannya.”
Laki-laki yang mengendap-endap diluar itu lalu berbisik,”Dengarkan Aslam, bagaimana jawaban anaknya.”
“Sya akan mendengarkan wahai Amiru Mukminin,” jawab Aslam kepada orang itu, yang ternyata adalah Umar bin Khatab. Mereka berdua, Umar dan pembantu setianya, sering keluar malam-malam untuk menyelidiki bagaimana kehidupan rakyatnya, apa saja kebutuhan mereka, dan bagaimana kesan mereka tentang para punggawa ataupun abdi negara yang membantu. Khalifah menyelesaikan tugas mulianya.
Aslam mendengar gadis itu menyanggah, “Ah, jangan ibu, bukankah khalifah telah menyampaikan titahnya?”
“Titah apa anakku?”
“Khalifah melarang pedagang memalsukan barang-barang dagangannya. Lebih baik harganya dinaikkan daripada mutunya dicurangi.”
“Ah, sudahlah turuti saja anjuranku kan khalifah tidak akan mengetahui urusan ini,” bantah sang ibu.”Kau lihatlah tidak seorang pun prajurit khalifah berada disekitar tempat ini. Khalifah takkan tahu.”
“Tetapi ibu, bukankah kita telah mengangkatnya sebagai amirul mukminin, pemimpin orang-orang beriman? Berarti semua perintahnya yang sejalan dengan perintah agama harus kita patuhi, baik ia tahu maupun tidak tahu. Tanggung jawab kita bukan kepada khalifah melainkan kepada Allah.”
Umar binKhatab sangat terharu mendengar ucapan putrid perempuan tua itu. Seraya beranjak dari situ ia berbisik lagi, “Aslam, tandailah rumah ini. Besok siang engkau lacak kembali. Siapa gerangan mereka yang sedang berdebat itu.”
“Insya Allah akan saya laksanakan,” sahut Aslam, tangan kanan Khalifah Umar bin Khatab, sepanjang masa pemerintahannya.
Seperti yang telah disanggupi, esoknya Aslam segera berangkat menuju kampung yang semalam mereka kunjungi dan memperhatikan rumah perempuan tua serta anaknya tersebut.
Sejak dini hari Aslam sudah berada di kampung itu dan mengawasi rumah gubug yang hampir roboh dikelilingi belukar meranggas. Penghuninya Cuma dua orang, ibu tua dan anak gadisnya yang meningkat remaja. Tidak ada orang lelaki di rumah mereka, sebab ayah si gadis itu sudah meninggal dunia. Maka setelah jelas keadaan mereka, Aslam lantas pulang dan menceritakan keadaan tersebut kepada Umar bin Khatab.
Khalifah makin kagum. Bagi kaum beriman rupanya kemiskinan tidak berhasil meruntuhkan kejujurannya. Sementara kebalikannya, ditengah kekayaan justru acapkali kejujuran merupakan benda aneh yang wajib dihindari.
“Aslam, hadiah apakah yang pantasuntuk diberikan kepada gadis yang saleh itu?” tanya Umar.
“Barangkali satu pundi-pundiuang emas?” jawab Aslam.
“Ah, itu terlalu kecil. Kejujuran sebenarnya tak dapat dihitung degan uang, bahkan tidak imbang dengan hadiah apapun.”
“Jadi apa yang akankita lakukan?”tanya Aslam kebingungan.
“Begini, aku sudah lama mencari calon istri untuk anakku, Ashim. Bagaimana kalu gadis itu kulamar menjadi menantuku?” ucap Umar berbinar-binar.
“Wah tepat sekali apabila seorang kepala negara mempunyai menantu gadis jelita yang jujur.”
Alhamdulillah, tatkala niatnya itu dikemukakan oleh Umar kepada anaknya, Ashim, pemuda itu tanpa membantah sedikitpun langsung mengangguk. Ia hanya menjawab, “Bagi saya ayah, perkawinan adalah ibadah, bukan sekedar perpaduan antara lelaki dan perempuan menjadi sepasang suami istri.”
Ya, ya, memang begitulah ajaran agama kita anakku,” ujar Umar bin Khatab menggarisbawahi. “Perkawinan adalah ibadah yang sangat suci. Dari luar kelihatannnya menyenangkan belaka, namun di dalamnya sarat dengan perjuangan mengalahkan hawa nafsu agar rumah tangga tetap tenteram dan sejahtera. Karena itulah aku memilih gadis kampung itu untuk menjadi pasanganmu karena ia amat jujur dan takut kepada Allah pada waktu terang maupun pada waktu gelap.”
Beruntunglah mereka semua, Umar, Ashim dan penghuni rumah kusam yang rombeng itu. Sebab bagi mereka, terbukti dasar cinta kepada Allah senantiasa menjadi tonggak atas semua tingkah laku dan tindak-tanduk sepanjang hidup. Dengan mengawini gadis jelata, Ashim dapat menjamin  rumah tangga yang tidak saja bersinar bagi keluarganya, tetapi juga menjadi teladan bagi sgenap pasangan suami istri yang mendambakan sakinah, kesejahteraan, lahir dan batin.

No comments:

Post a Comment